ULASAN

Tantangan Pembangunan Pariwisata NTB :  Telaah Buku Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan

0Shares

Buku “Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan” yang ditulis oleh Moh. Nazar Fajri dan Taufan merupakan buku yang berisi tinjauan konsep, teori dan yuridis terkait pembangunan, pariwisata dan pembangunan berkelanjutan.

Sustainable Development (Konsep pembangunan berkelanjutan) global diadopsi oleh PBB ke dalam MDGs (2010-2015) dan SDGs (2016-2030). Perkembangannya, berbagai sektor pembangunan telah mengadopsi pembangunan berkelanjutan, terutama sektor pariwisata, sebagai sektor yang memberikan beban terhadap kondisi lingkungan hidup.

Pariwisata merupakan salah satu sektor utama dalam peningkatan ekonomi, di NTB, Pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan bersama dengan Pertambangan dan Pertanian. Secara khusus buku ini meninjau pula  Hukum dan Kebijakan serta Tantangan Pariwisita Berkelanjutan di NTB.

Bagian awal buku ini meletakan dasar permasalahan, membuka pemikiran dan merekonstruksi paradigma yang selama ini kita anggap sebagai prestasi, mengantarkan kita berpikir ulang untuk mengevaluasi dan memformulasi kembali arah kebijakan pembangunan di NTB.

PRESTASI

Perkembangan teknologi telah membawa manusia pada keterhubungan yang cepat dan meluas antar wilayah, pariwisata menjadi era baru penduduk mengeksplorasi, mengunjungi dan mendapatkan sudut pandang baru di tempat jauh.

Cara-cara manusia demi mendapatkan pengalaman dan kesan, tidak meletakan dasar pandangan terhadap lingkungan hidup,  berbagai reaksi lingkungan hidup memberikan dampak yang buruk bagi keberlanjutan hidup penduduk bumi, sehingga kita mulai berpikir ulang guna membangun kerangka pariwisata yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Di Indonesia konsep pembangunan berkelanjutan telah menjadi landasan dalam beberapa produk hukum dan kebijakan pembangunan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah, antara lain RPJP, RPJMN, UU No. 32 Tahun 2009, UU No. 10 Tahun 2009, serta berbagai produk hukum di daerah.

Laporan kemajuan pariwisata di Indonesia, seperti laporan tahunan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah, seperti Kementerian Pariwisata, Dinas Pariwisata maupun Data Badan Pusat Statistik memfokuskan pada sajian laporan yang didominasi oleh data statistik peningkatan pengunjung, pendapatan, destinasi, akomodasi, dan lainnya yang berpijak pada sudut pandang ekonomi.

Perkembangan pariwisata menyisakan banyak kekhawatiran, ketika dirasakan pengembangan pariwisata saat ini lebih didominasi oleh nilai-nilai ekonomi dan estetika terkait dengan pengembangan industri, dibandingkan pengembangan nilai-nilai etika budaya, sosial, dan kearifan lingkungan dari masyarakat.

Pembangunan pariwisata semuanya merujuk kepada indikator-indikator yang sifatnya kuantitatif ekonomi semata, seperti dampak pendapatan pariwisata kepada produksi, dampak pendapatan pariwisata terhadap produk domestik bruto, tenaga kerja, upah dan gaji, pengembangan sektoral, dan penciptaan pajak. Sebaliknya pemerintah belum menempatkan tolok ukur keberhasilan pariwisata dari sisi kesejahteraan, partisipasi dan kepuasan masyarakat yang bersentuhan langsung dengan wisatawan.

Masyarakat lokal yang seharusnya menjadi subyek utama di dalam pengelolaan pariwisata, justru menjadi obyek penderita yang diatur dengan berbagai bentuk pengekangan atas nama kepuasan pengunjung. Bagaimana cara menjadi sopan, senyum, sapa, dan ramah kepada pengunjung menjadi bahan diskusi dan pelatihan yang akan diberikan kepada masyarakat, meskipun sebetulnya masyarakat lokal memiliki bentuk kearifan budaya, sosial, dan lingkungannya sendiri.

Semua pihak kemudian menjadi terpesona ketika ada investor masuk menawarkan konsep pengembangan pariwisata. Mereka dianggap pahlawan yang akan memajukan pariwisata, meskipun mungkin bentuk pariwisata yang ditawarkan justru merusak lingkungan dan tetap menjadikan masyarakat lokal sekedar obyek pariwisata. Praktek pariwisata yang dominan dan eksesif oleh aspek ekonomi ini nantinya cenderung mereduksi hakekat kepariwisataan yang multidimensi, multifacets, dan multisektor yang memiliki tujuan yang lebih luas yaitu searching for meaning fit llife.

Berbagai dampak tersebut merupakan momentum dalam meningkatkan upaya untuk menemukan kembali roh dan spiritualitas pariwisata yang selaras dengan berkembangnya kesadaran akan pentingnya pembangunan yang berkelanjutan serta kegiatan pariwisata yang ramah lingkungan, dalam bingkai gerakan pariwisata berkelanjutan, terlebih UNDP dan UNWTO telah menekankan pada berbagai kesempatan dan mengukuhkan konsep pembangunan berkelanjutan sebagai landasan pembangunan global periode 2016-2030.

Oleh : Dr. Abdurahman, M.Pd

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Us

Follow us on Facebook Subscribe us on Youtube Contact us on WhatsApp