Inspirasi

Menengok Pesona Baru Pantai Ambalawi Bima

0Shares
Di jalan lintas Bima-Wera, tepatnya di wilayah Desa Tololai, Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima, kami melintasi jalan sepanjang pantai yang mempesona. Abdul Haris yang biasa disapa Bang Heros, segera menghentikan laju kendaraan kala menyadari sebuah kedai yang terletak di bibir pantai, kami pun bersepakat untuk putar balik, Bang Heros mengambil ruang untuk memarkir kendaraan di Kedai yang diberi nama “Black Cafe Ikan Bakar” itu, pada Minggu (18/04/2021).
 
Waktu terlihat masih pukul Pukul 16.00 Wita, kami menunjuk berugak (gasibu) yang ditempatkan sekitar tiga meter dari bibir pantai untuk berbincang. Kami hendak menunggu waktu berbuka, berharap waktu berpacu, sembari berkeliling menengok keadaan pantai.
 
Bang Heros, menjelaskan panjang lebar tentang kondisi pantai, beberapa kali ditimpali oleh Ade Setiawan (Naga), melengkapi berbagai kisah yang saya lewatkan selama meninggalkan kampung halaman, juga pertanyaan beruntun yang terlontar dari Chairul Fatin (Rava), yang kali pertama merasakan nuansa pantai Ambalawi.
 
Setidak-tidaknya ada enam pantai yang populer bagi kami warga Ambalawi dan Wera. Deretan tempat teratas ada nama Pantai Ndawa, Pantai Mantau, Pantai Sanosu, Pantai Sarae Bura, Pantai Spui dan Pantai Oi Fanda. Kesemuanya, wajahnya berubah, pesonanya memudar. Kini, yang tersisa hanya suara deburan ombak bersama ingatan keramaian dimasa lebaran.
 
Namun, pantai wilayah Ambalawi memang tidak kehabisan pesona. Beberapa tahun terakhir, nama Ikan Bakar Ina Sei berhasil merebut perhatian khalayak, hingga menampilkan serpihan pesona Ambalawi.
 
Di tengah bincang berbagai hal, kami pun terlarut pada kisah pemilik kedai, M. Subiyono alias Chigon Black (40), pemilik “Black Cafe Ikan Bakar”, yang merupakan salah satu PNS di UPTD Peternakan Wera.
 
Chigon Black pernah di penjara, hingga selepasnya memutuskan untuk membuka kedai. Sore itu, terlihat istri dan anak-anaknya yang berlarian di sekitar pantai, bersenda gurau, terlihat jelas raut bahagia yang melingkari mereka. Chigon black, berhasil memancarkan pesona pantai Ambalawi.
 
Waktu, menunjukan pukul 17.20 Wita, kami terlanjur terhanyut suasana, hingga kami memutuskan untuk berbuka puasa di kedai “Black Cafe Ikan Bakar”. Kami menuju tempat penyimpanan ikan, memilah milih, yang menggugah selera.
 
Sampai mendekati waktu buka puasa, pukul 17.50 Wita, kami memilih tempat (berugak) yang lebih dekat dengan bibir pantai, terlihat jelas pasir dan bebatuan kecil di bawah air laut, jernih, rasa-rasanya menarik untuk memeluk.
 
Aroma ikan bakar mulai menghampiri kami, satu per satu dihamparkan di hadapan, bersama nasi panas, sayur kelor dan sambal tomat segar yang dihiasi kemangi dan belimbing wuluh, tentu menggoda, rasanya waktu berjalan lambat. Hingga akhirnya, waktu yang dinanti tiba, pukul 18.15 kami menyantap dengan penuh hikmat.
 
Pengalaman yang memberi kesan, kembali mengisi energi dan gairah untuk berkunjung kembali, dan berharap pesonanya tidak memudar. 
 
Laporan: Taufan Abadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Us

Follow us on Facebook Subscribe us on Youtube Contact us on WhatsApp