ESAI

Memperkokoh Literasi Universal Kohati-HMI

0Shares

Penulis: Yunita (Mahasiswa FH Unram, Kader HMI Komsat Hukum Unram, Relawan LPW NTB)

Pendahuluan

Organisasi merupakan wadah perkumpulan yang di dalamnya memiliki insan cita dan tujuan yang sama. Dalam mencapai insan cita dan tujuan dalam suatu organisasi, tentu memiliki kiat-kiat dalam menjalankan roda kepengurusan dengan program kerja yang mumpuni. Begitu juga yang dilakukan oleh organisasi HMI. HMI singkatan dari Himpunan Mahasiswa Islam merupakan organisasi yang berdiri pada tahun 5 Februari 1947 yang dipelopori oleh Lafran Pane beserta 14 orang mahasiswa Sekolah Tinggi Islam. berdirinya HMI dilatarbelakangi dengan adanya dominasi partai sosialis terhadap sebagian mahasiswa dari organisasi Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY). Akan tetapi, sebagian mahasiswa lainnya yang berideologi murni menjunjung nilai-nilai keislaman menolak adanya dominasi tersebut. Sehingga Lafran Pane bersama teman-teman nya mendirikan organisasi baru yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang bertujuan mempertahankan dan mempertinggikan derajat rakyat Indonesia serta menegakkan dan mengembangkan ajaran dari agama Islam (Kompas, 2022). Selain HMI, terdapat Kohati.

Kohati singkatan dari Korps-HMI-Wati merupakan bagian dari HMI yang secara khusus sebagai wadah pengembangan potensi-potensi kader HMI dalam dinamika keperempuan, berfungsi sebagai bidang keperempuanan dalam tingkat internal HMI, serta menjadi organisasi perempuan di tingkat eksternal HMI. Selain berfungsi secara khusus dalam membina lingkaran keperempuanan, Kohati yang beranggotakan perempuan-perempuan ini memiliki peran yang sama dalam membangun, membela dan menguatkan dinamika sosial, kebudayaan, dan politik masyarakat. Sebagai bentuk akselerasi dalam mencapai tujuan-tujuan dari HMI. Kohati yang dipercaya sebagai bagian penggerak dalam mencapai tujuan-tujuan HMI, menandakan peran perempuan dapat berkontribusi besar di dalam kemaslahatan Rakyat Indonesia (Kowani, 2020).

Dalam sejarah, perempuan tidak asing dengan perjuangan. Baik perjuangan dari zaman pra kemerdekaan dan paska kemerdekaan. Pejuang-pejuang seperti R.A Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Maria Walanda Maramis, Martha Christina Tiahahu, Keumalahayati, Siti Manggopoh, Nyai Ahmad Dahlan, Hajjah Rangkayo Rasuna Said, Fatmawati soekarno Putri menjadi sebagian dari nama-nama perempuan yang membela Negara Republik Indonesia dari penjarahan oleh penjajahan asing pada saat itu.(Women Perempuan, 2021).

Berbagai bentuk perjuangan dilakukan oleh perempuan-perempuan dalam membela Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti ikut berperang secara langsung, yang dilakukan oleh Cut Nyak Dien, Martha Christina Tiahahu, Nyi Ageng Serang, dan laksamana Keumalahayati. Atau berjuang dalam bentuk emansipasi perlawanan melalui dunia pendidikan literasi dan bergabung dengan gerakan pemuda, seperti yang dilakukan oleh Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Sebagai pejuang emansipasi, Rasuna said pernah ditangkap oleh pasukan belanda pada tahun 1932 di Semarang karena melakukan pidato yang berisi nada pertentangan, dan menyinggung kolonial belanda pada saat itu. Setelah bebas Rasuna Said melanjutkan dunia pendidikannya di Islamic College yang dipimpin oleh KH Mochtar Jahja dan Dr Kusuma Atmaja. Pada tahun 1935 Rasuna Said menjadi pimpinan dari redaksi majalah raya. Dikarenakan pergerakan selalu diawasi dan dibatasi oleh Kolonial Belanda, akhirnya Rasuna Said berpindah ke Kota Medan dan membangun sekolah yang dikhususkan bagi kaum perempuan perguruan putri. Selain itu, Rasuna said juga menerbitkan majalah menara putri yang berbicara tentang pentingnya peran kaum perempuan, kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan, serta keislaman. Setelah masuk masa pendudukan jepang, Rasuna Said turut ikut sebagai pendiri organisasi pemuda Nippon raya di Padang. Akan tetapi, organisasi yang didirikan itu dibubarkan oleh penjajah Jepang. Tidak menyerah di situ, Rasuna said bersama kawan seperjuangannya Khatib Sulaiman kembali aktif untuk memperjuangkan dalam membentuk barisan Pembela Tanah Air (Peta). Kokohnya kontribusi perjuangan kaum perempuan demi kemaslahatan rakyat pada saat itu, menjadi tombak cerminan bagi perempuan saat ini. Tentang pentingnya meneruskan perjuangan-perjuangan di masa dahulu demi emansipasi dan kebebasan rakyat Indonesia (Women Perempuan, 2021).

Perkembangan zaman telah berbeda. Sehingga dalam memperjuangkan hak-hak rakyat yang menjadi tujuan HMI bisa diselaraskan sesuai era modern yang sedang berkembang. Akan tetapi penulis menyorot bahwa, minat literasi dari kader Hmi terutama Kohati secara umum masih dirasa kurang. Hal itu dibuktikan dengan masih sedikitnya Kohati berada di ruang-ruang intelektual dan ikut dalam kontestasi menyuarakan kepentingan rakyat. Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) yang rilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2019, menyatakan bahwa Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara, atau merupakan 10 negara terendah yang memiliki literasi yang kurang. Ada 2 hal yang menyebabkan rendahnya kualitas literasi di Indonesia yaitu kurang tersedianya bahan bacaan dan praktik literasi (solopos, 2021).

Adanya faktor-faktor dalam peningkatan literasi yang telah dijelaskan diatas, maka dalam meningkatkan kualitas dari kader Kohati dapat diwujudkan melalui peningkatan literasi secara universal. Langkah ini diharapkan sebagai upaya memberdayakan kader kohati yang berintelektual serta mau berpartisipasi dalam mewujudkan tujuan-tujuan HMI.

Memperkokoh Literasi

Mengutip dari KBBI, literasi adalah kemampuan menulis dan membaca, pengetahuan individu dalam mengolah informasi dalam bidang atau aktivitas tertentu dan kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Masih dari sumber yang sama, Universal dapat diartikan sebagai berlaku umum untuk semua orang atau untuk seluruh dunia. Sehingga dari pengertian di atas penulis dapat menarik maksud secara ringkas mengenai pengertian dari literasi universal. Literasi Universal adalah kemampuan membaca dan menulis serta mengelola pengetahuan dan informasi individu secara umum yang dapat ditujukan kepada khalayak.

Dalam memulai meningkatkan literasi universal kohati dapat menempuh langkah-langkah: Pertana, Terbiasa membaca dan memperbanyak jenis bacaan buku. Dalam membangun kebiasaan baru terkadang dirasa sulit. Akan tetapi, untuk mengakali dalam membangun kebiasaan baru bisa dengan memaksakan diri. seperti halnya membaca. Mendengar kata membaca, tentu sudah melekat dalam kehidupan kita akan tetapi dalam melaksanakan kegiatan membaca masih dirasa sulit. Sehingga memaksa diri dengan niat meluangkan waktu membaca selama 30 menit perhari bisa dilakukan. Apabila hal itu terus konsisten dilakukan, maka lambat laun kebiasaan membaca itu akan mulai terbentuk. sehingga dampak positif dari membaca ini akan terlihat terhadap pengembangan diri seperti mendapat pemahaman baru, kosakata baru serta meningkatkan kemampuan otak untuk berpikir secara baik dan rasional.

Apabila sudah terbentuk pola kebiasaan membaca. Maka mulailah memperbanyak jenis bacaan buku baru. Jenis buku bacaan seperti sejarah, hukum, filsafat, kebudayaan, politik, keperempuanan dan masih banyak lainnya. Membaca berbagai jenis buku akan semakin membuka banyak pengetahuan dan cara pandang dari yang sebelumnya tidak di tahu Sehingga dalam transfer ilmu dari berbagai jenis buku bacaan ke otak akan memperkuat argumentasi secara luas pada saat berdiskusi di ruang-ruang intelektual internal organisasi ataupun di ranah umum.

Kedua, mendorong pengadaan lapak baca dan sharing hasil bacaan. Pengadaan lapak baca masih jarang dilakukan oleh kader-kader Hmi sehingga dalam membangun kebiasaan membaca dari kader Hmi terutama kohati akan sulit dilakukan. Oleh karena itu, penting pengadaan lapak baca untuk sering dilakukan dalam membangun dan memberi pengaruh terhadap kader agar sedikit demi sedikit terbentuk pola minat dalam membaca tersebut. Dalam pengadaan lapak baca ini bisa dijadikan sebagai salah satu program kerja krusial oleh badan pengurus harian Hmi cabang dan komisariat. Karena begitu penting dalam membangun minat baca dari kader-kader kohati. Selain itu, dalam pengadaan lapak baca perlu menyelipkan konsep wajib sharing hasil bacaan antar kader supaya ilmu yang didapat bukan sekedar dari hasil bacaan individu saja akan tetapi juga berasal dari hasil diskusi.

Ketiga, menulis. Setiap orang yang sudah terbiasa membaca, begitu penting menuangkan hasil pikiran dan pengetahuannya dalam sebuah tulisan. Menuangkan hasil pengetahuan ke sebuah tulisan menjadi sebuah langkah untuk menguatkan daya ingat dari hasil bacaannya. Dalam menulis pokok-pokok isi dari sebuah buku bisa dilakukan setelah selesai membaca. Selain menulis ringkasan penting dari buku yang telah dibaca, menulis opini atau esai adalah hal yang juga penting agar hasil pikiran dan pengetahuan bisa dinikmati oleh khalayak umum.

Keempat, menerapkan ilmu sebagai nilai. Ilmu pengetahuan dari hasil bacaan bukan hanya dijadikan sebagai kepentingan diri sendiri. Lebih dari pada itu, ilmu pengetahuan harus dipergunakan demi kemaslahatan umat. kemaslahatan yang dimaksud adalah, menggunakan ilmu pengetahuan untuk membela kebenaran . Membela kebenaran dan hak-hak rakyat menjadi bagian dari tujuan HMI. Oleh karena itu, dalam membela hak-hak rakyat bukan sekedar mengandalkan otot tapi mempergunakan ilmu pengetahuan sebagai langkah yang harus ditempuh agar tidak mudah dibodoh-bodohi oleh kepentingan jahat orang lain. ilmu pengetahuan menjadi esensi yang akan terus bernilai apabila dipergunakan dengan sebaik-baiknya.

Kesimpulan

Literasi Universal adalah kemampuan membaca dan menulis serta mengelola pengetahuan dan informasi individu secara umum yang dapat ditujukan kepada khalayak. Mewujudkan terciptanya literasi universal dapat dilakukan melalui kegiatan membaca dan memperbanyak jenis bacaan buku, mendorong pengadaan lapak baca dan sharing hasil bacaan, melakukan kegiatan menulis dan mengaktualisasikan ilmu pengetahuan sebagai nilai. Untuk mencapai tujuan suatu kegiatan harus melalui niat yang serius dan konsisten yang tinggi dalam diri, serta bekerja sama dengan lingkaran organisasi untuk memperoleh hasil yang nyata dan maksimal.

Daftar Pustaka
Bayu Jatmiko Adi, 2021, https://www.solopos.com/2-faktor-ini-disebut-bikin-tingkat-literasi-masyarakat-indonesia-rendah-1212644 (diakses 12 Februari 2023, pukul 14.10)
Kowani,2020,https://kowani.or.id/kohati/#:~:text=Pengertian%20Kohati%20%3A%20KOHATI%20adalah%20singkatan%20dari%20Korps-HMI-Wati.,potensi%20HMI-Wati%20dalam%20wacana%20dan%20dinamika%20gerakan%20keperempuanan. (diakses 28 Januari 2023, pukul 09.00)
Novrizaldi, 2021, https://www.kemenkopmk.go.id/tingkat-literasi-indonesia-memprihatinkan-kemenko-pmk-siapkan-peta-jalan-pembudayaan-literasi#:~:text=Berdasarkan%20survei%20yang%20dilakukan%20Program,yang%20memiliki%20tingkat%20literasi%20rendah. (diakses 12 Februari 2023, pukul 14.40)
VerelladevankaAdryamarthanino,2022,https://www.kompas.com/stori/read/2022/02/05/130000379/sejarah-himpunan-mahasiswa-islam-hmi-?page=all (diakses 12 Februari 2023, pukul 14.00)
Wiwie Hoedy, 2021, https://www.womanindonesia.co.id/kemerdekaan-indonesia-ada-9-tokoh-perempuan-yang berperan/#:~:text=9%20Pejuang%20Perempuan%20yang%20Berperan%20dalam%20Kemerdekaan%20Indonesia,Fatmawati%20Soekarno%20Foto%20%3A%20doc.%20twitter%20.potretlawas%20 (diakses 29 Januari 2023, pukul 19.00)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Us

Follow us on Facebook Subscribe us on Youtube Contact us on WhatsApp