KOLOM

Literasi Bima Ramah Gagal: Visi Religius Kandas

0Shares

Oleh: Yunita, SH (Tim Advokasi LPW NTB)

Bupati dan Wakil Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri, S.E., dan Drs. Dahlan M. Noer, M.Pd, mengusung pikiran “Bima Ramah” semenjak periode pertama 2016-2020 dan dilanjutkan 2020-2025.

Pikiran Bima Ramah, diterjemahkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD). Bima Ramah kemudian diupayakan melalui gerak fungsi perangkat daerah. Sayang, pikiran dan gerakan belum mampu memberikan dampak luas. Justru yang nampak, rentetan permasalahan sosial.

Bima Ramah, tertera sebagai visi “Terwujudnya Kabupaten Bima yang RAMAH”. RAMAH, adalah akronim dari Religius, Aman, Makmur, Amanah, Handal.

Bima Religius, mengemban misi “Mewujudkan masyarakat yang memahami dan mengamankan nilai-nilai keagamaan, serta nilai-nilai luhur Kabupaten Bima.

Usaha menyalakan visi religius tersebut, diantaranya: 1) Membangun Pendidikan dan Kajian Pengembangan Keislaman dan Kebudayaan Kabupaten Bima, Berpusat di Masjid Agung, Pondok Pesantren, dan Organisasi Keagamaan. 2) Menaikkan Insentif Guru Ngaji, Petugas Masjid, dan Rumah-rumah Ibadah. 3) Gerakkan Toilet Bersih di Masjid, Sekolah dan Kantor.

Dari cara pikir di atas, religius diharapkan menjadi sikap yang melekat sebagai pedoman yang mengatur perilaku dan moralitas bagi individu dan umum seluruh manusia di Kabupaten Bima.

Tingkat religiusitas dapat dilihat dari kebiasaan dan kegiatan yang dilakukan oleh individu atau masyarakat dalam kehidupan sehari-hari baik secara ibadah menurut agama masing-masing, bersosial, bahkan dalam Pendidikan literasi keagamaan.

Literasi dalam beragama menurut Islam misalnya, menulis dan mempelajari huruf arab “seharusnya’ sebagai hal mendasar bagi umat muslim. Akan tetapi kemampuan literasi disetiap daerah tidak merata, bahkan tingkat literasi rendah.

Data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik secara periodik setidaknya memberikan gambaran dasar kondisi literasi. Kabupaten Bima menjadi wialayah tingkat kab/kota di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan tingkat literasi membaca dan menulis arab paling rendah yang dibagi berdasarkan jenis kelamin perempuan sebesar 13,43, laki-laki dengan angka 15,00 dari angka tertinggi yang pegang oleh Kabupaten Lombok barat berdasarkan jenis kelamin laki-laki 58,82 dan perempuan 51,36.

Rendahnya tingkat literasi membaca dan menulis arab (mengaji) diwilayah Kabupaten Bima bertolak belakang dengan visi Bima Ramah dalam menuju bima yang religius untuk Mewujudkan pemahaman masyarakat kabupaten bima dan mengamalkan nilai-nilai Keagamaan.

Visi Religius Bima Ramah, Kandas dan literasi gagal. Eksistensi integarasi visi Bima Ramah dalam mewujudkan bima religus perlu ditata kembali. Bupati perlu menyikapi serius dengan mendorong keterlibatan seluruh perangkat daerah, dan mengomptimalkan perangkat hukum dan kebijakan sebagai dasar. Mengingat pula, akhir kepemimpinan Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri sudah di depan mata.

Bupati, perlu membuka mata lebih lebar dan pikiran yang lebih luas serta mulai bergerak cepat. Tidak harus sempurna, bukan pula harus memperbaiki keadaan, atau hanya mengejar perbaikan angka. Terpenting meninggalkan jejak kebaikan dan memberikan keyakinan bahwa kita layak memiliki harapan sebagai warga negara Indonesia. Dan, ingatan kelak, ia pantas menjadi kepala daerah.

Editor: Maula Sastaperkasa, S.H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Us

Follow us on Facebook Subscribe us on Youtube Contact us on WhatsApp