KOLOM

Kasus Mutilasai dalam Koper: Setengah Hati Pada Korban

0Shares

Oleh: Khairus Febryan F., S.H.,M.H – Dosen dan Tim BKBH Fakultas Hukum Universitas Mataram

Akhir-akhir ini, pemberitaan mengenai tindakan kriminal yang mengarah pada perilaku psikopat semakin marak sepertinya, mulai dari suami yang memutilasi istri kemudian potongan daging mayatnya ditawari kepada tetangga, hingga kasus mayat perempuan dalam koper. Kalau kata netizen, hal ini dikaitkan sebagai tanda-tanda akhir bulan, ehh akhir zaman maksudnya.

Namun ada satu polarisasi informasi yang saya sayangkan, terkait kasus jenazah perempuan yang ditemukan dalam koper. Tersangkanya adalah rekan kerjanya sendiri dengan TKP di sebuah kamar hotel di wilayah Bandung, Jawa Barat.

Apa yang saya sayangkan? alih-alih mendapatkan empati “as a victim”, justru korban dianggap oleh banyak orang jika wajar meninggal “secara terhina” karena hari kejadian korban check-in hotel dengan laki-laki yang bukan suaminya bahkan diketahui sebelum meninggal melakukan hubungan seksual dengan pelaku.

Pelaku kesal dengan tuntutan korban yang meminta dinikahi sementara pelaku sudah menikah dan akan melangsungkan resepsi. Anehnya narasi tersebut murni berdasarkan pengakuan dari pelaku dan ditelan mentah-mentah oleh publik.

Keanehan lainnya, laki-laki yang diberitakan sudah menjadi “mantan suami” korban dimunculkan kembali “sebagai suami korban” yang menambahi bumbu stigmatisasi pada korban “as a cheating wife” alias istri sah yang selingkuh. Akhirnya perspektif sebagian bahkan banyak orang terhadap korban tidak murni lagi sebagai korban karena sudah bias dengan stigma buruk tadi, inilah yang kemudian saya katakan sebagai “sudah jadi korban, malah jadi korban lagi” alias revictimisasi.

Dalam praktik, seringkali saya temukan korban yang menjadi korban lagi seperti contoh kasus anak/perempuan yang diperkosa/setubuhi, sudah ia mengalami kejadian traumatis, dihadapkan dengan hukum, introgasi sana sini, disalahkan keluarga bahkan diusir masyarakat karena “dianggap aib”.

Begitulah terkadang, kita setengah hati pada korban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Us

Follow us on Facebook Subscribe us on Youtube Contact us on WhatsApp